Perkembangan Fotografi Masa Tradisional dan Digital
Perkembangan Fotografi Masa Tradisional dan Digital
Oleh: Rokibullah
Mata Kuliah: Fotografi Jurnalistik
Istilah fotografi berasal dari bahasa Latin, yaitu photos yang berarti cahaya dan graphein yang berarti tulisan atau gambar. Jadi dari segi arti fotografi adalah menulis atau menggambar dengan menggunakan media cahaya. Cara dari proses ini menggunakan alat yang disebut kamera.
Kamera baru ditemukan kurang dari 200 tahun yang lalu, dan berkembang sangat menakjubkan pada saat itu. Penciptaan proses fotografi pertama kali diumumkan kepada publik pada tahun 1839, tetapi tanggal yang pasti tentang kapan sebenarnya fotografi diciptakan, tidak diketahui. Penciptaan fotografi pertama kali diumumkan di dua negara, Inggris dan Perancis. Di Inggris diciptakan oleh seorang yang bernama William Henry Fox Talbot, sedangkan di Perancis oleh Louis Jacques Mandé Daguerre.
Di Indonesia, penggunaan kamera pertama kali belum diketahui sejarahnya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ada seseorang dari negara Eropa datang ke Batavia dengan membawa kamera dan lembaran peraknya dengan tujuan untuk mengumpulkan gambar-gambar mengenai arca Hindu-Jawa. Dia adalah Adolf Schaeffer. Kemudain dengan gambar-gambar inilah pemerintah kolonial Belanda memberikan gambaran mengenai Indonesia kepada masyarakat negeri Belanda. Karya foto yang khas pada waktu itu adalah pemotretan Gusti Ngurah Ktut Jelantik, Raja Buleleng bersama putri dan pengawalnya.
Adolf Schaeffer juga pernah memotret Candi Borobudur. Foto pesanan pemerintah kolonial Belanda ini diambil persisnya pada tahun 1844. Melalui hasil gambar ini jugalah yang menjadi tonggak sejarah fotografi di Indonesia.
Pada akhir abad ke-19, Kassian Chepas menjadi satu-satunya juru foto lokal yang masih keturunan Jawa-Belanda. Karya Chepas yang paling terkenal adalah foto-foto yang menggambarkan kehidupan di dalam tembok keraton. Foto tersebut menampilkan kemegahan dan keindahan keraton.
Kassian Chepas merupakan tokoh pertama kali yang mengenalkan dunia fotografi ke Indonesia. Banyak juga yang mengakui bahwa Kassian Chepas adalah fotografer pertama Indonesia. Meskipun demikian, literatur sejarah Indonesia sangat jarang membahas tentang dirinya. Namun, Kassian Chepas mulai diketahui jejaknya dengan karya fotografi tertuanya yang dibuat pada tahun 1875.
Masuknya Jepang ke Indonesia tahun 1942, telah menciptakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menyerap teknologi di bidang fotografi ini. Pemerintah kolonial Jepang mulai melatih orang Indonesia untuk menjadi fotografer demi kebutuhan propagandanya, dan mempekerjakan mereka di kantor berita milik Jepang yaitu Domei. Kemudian pada saat itulah muncul nama Mendur bersaudara. Merekalah yang membentuk gambaran baru tentang Indonesia.
Melalui fotografi, Mendur bersaudara berusaha merubah mental bangsa Indonesia yang sama tinggi atau sederajat. Frans Mendur bersama kakeknya, Alex Mendur, juga menjadi ikon bagi dunia fotografi nasional. Mereka bersama kerap merekam dan mengabadikan momentum-momentum sejarah di negeri Indonesia ini. Salah satunya adalah mengabadikan detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itulah, momentum fotografi benar-benar eksis di Indonesia.
Setelah itu, fotografi di Indonesia selalu berkaitan dengan perjalanan sosial-politik bangsa Indonesia. Mulai dari zaman Revolusi Kemerdekaan sampai zaman Reformasi 1998.
Seiring berjalannya waktu, perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) semakin maju dan berkembang, termasuk dalam dunia fotografi. Bahkan saat ini, dunia pun bisa digenggam dengan kepalan tangan. Yakni dengan adanya gadget atau handphone yang dimiliki oleh masing-masing individu, mereka dapat melakukan apa diinginkannya. Fitur-fitur yang tersedia pada alat (handphone) ini cukup lengkap dan memadai, karena setiap tahunnya pasti berubah-ubah dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki pada handphone tersebut. Fitur kamera yang ada pada handphone juga tidak kalah kualitasnya dengan kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) pada umumnya. Sehingga dengan satu alat tersebut, masing-masing individu dapat menciptakan karyanya dengan karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Maka dari itulah, sudah sepatutnya generasi-generasi yang hidup pada era digital ini harus memiliki berbagai karya-karya yang menarik dari segala bidang, khususnya dalam bidang fotografi. Karena lewat sebuah karyalah seseorang akan dikenang untuk diambil ibrah dan dijadikan pelajaran dalam menjalankan kehidupan.
Komentar
Posting Komentar